Baca Juga
Yakinlah, kesucian cinta telah kamu dapatkan bahkan
ketika hari pertama kamu hadir di bumi. Masih bertanya – tanya juga? Tak
lain dan tak bukan ialah cinta orangtua kepada anaknya.
Pada hari itu, ketika kehidupan di dalam kandungan telah
usai dan kehidupan di dunia segera di mulai, aku memang belum bisa
melihat bagaimana rupa wajah ayah dan ibu namun hangat kurasa kesucian
cinta terpancar dari senyum mereka ketika melihat tubuh mungilku
bergeliat dan renyah suara tangisku mengisi ruangan putih di dalam rumah
sakit.
Semakin aku tumbuh besar, semakin aku diuji oleh rasa sabar. Maka sadarkanlah aku…
Seiring berjalannya hari, masa remaja itu datang dan aku mulai tak
acuh dengan petuah-petuah ayah dan mengabaikan perhatian-perhatian tulus
ibu. Sedangkan aku di luar sana sibuk dengan duniaku, bersenang-senang
dengan teman sebaya, sering bolos sekolah, melupakan orangtua yang susah
payah mencari nafkah, dan meminta uang tanpa mengerti kondisi orang
tua.
Kerap kulupa akan kewajibanku sebagai seorang anak, yang
harusnya membanggakan dengan nilai rapot di kelas, bukan malah membuat
masalah di sekolah hingga terpaksa membuat ayah atau ibu datang ke
sekolah. “Aisssh, maafkan anakmu ini Pak,Bu.”
Dengan cinta tulus mereka yang tiada tandingnya, mereka
rela melakukan apapun demi si anak, senakal-nakalnya anak dan
sebandel-bandelnya anak, orang tua lebih memilih mengabaikan kebahagiaan
mereka sendiri bahkan kesehatan mereka demi si anak yang selalu minta
dipenuhi.
Gerbang masa depan telah datang, dan aku telah sadar. Maka saatnya aku harus membayar.
Maka dari itu ketika gerbang masa depan telah datang dan
dewasa sudah didepan mata, kini saatnya aku harus membuat kalian
bahagia. Maafkan anak kecilmu yang nakal ini, sungguh tak ingin ku
melihat air mata jatuh di pipimu yang mulai menua itu. Rasanya hati ini
tercabik dan jiwa ini teroyak. Sudah cukup untuk aku membuat kalian
gusar dengan perilaku diriku yang kasar.
Kini akan aku buktikan bahwa aku, anak kecilmu yang
selalu membuatmu mengeluh kala itu, akan membuatmu terharu. Bukan lagi
menangis karena perilaku nakalku dulu, melainkan menangis karena
prestasi dan masa depanku yang akan kau banggakan. Doa - doamu yang
membuatku bisa berada di titik ini, semangatmu yang membuat aku selalu
kuat, dan harapan – harapannmu yang mendorongku untuk menjadi nomor
satu.
Ijinkan aku mempersembahkan sesatu yang memang
seharusnya kulakukan untukmu. Ijinkan aku membahagiakanmu di sisa waktu
bersama yang kita miliki ini. Aku sadar bahwa apa yang kuberi tak
sebanding dengan apa yang pernah kalian beri. Air susu ibu yang
membuatku bisa sekuat ini, cucuran keringat kerja keras ayah yang
membuatku tumbuh menjadi tangguh. Kupastikan kalian adalah hidupku,
tujuan dari mimpi-mimpiku.
Pak, Bu… Bimbinglah aku menuju hidupku yang baru.
Doakan anakmu ini untuk menjadi manusia dewasa yang
kuat, yang kelak akan menjadi orang tua layaknya kalian. Doakan aku
mampu menjadi orangtua yang kuat sekuat kalian mengahadapiku dulu, dan
kelak akan kuceritakan kepada anak-anakku bahwa aku mempunyai orangtua
yang cintanya luar biasa tulus tak ada tandingannya. Sungguh Bangga
sekali memiliki orangtua seperti kalian.
Selagi raga mereka masih bisa kau rengkuh, kumohon jangan pernah sakiti hatinya.
juliettefradin.com
Beruntunglah kalian jika masih dianugerahi kedua orangtua yang lengkap, masih sehat, masih bisa melihat senyumnya mengembang, masih bisa mendengar gelak tawanya yang renyah namun ringkih, masih sering diomeli karena telat pulang ataupun sekedar lupa makan. Yah, sebesar apapun kalian, sedewasa apapun dan sesibuk apapun, kalian tetap saja anak kecil bagi mereka.
Suatu saat kalian akan rindu siapa yang setiap pagi
mengantar ke depan pintu ketika berangkat sekolah, kuliah ataupun kerja.
Tak terbayangkan bagaimana rasanya kehilangan orangtua. Takkan ada lagi
pelukan malaikat yang menenangkan seperti pelukan seorang ibu, tak ada
lagi perlindungan yang kokoh seperti benteng kuat milik ayah. Lalu
Tuhan, kepada siapa bahagia ini akan kubagi?
Bahagiaku pergi bersama orangutaku, tak ada lagi
semangat-semangat ayah setiap pagi, tak ada lagi perhatian – perhatian
ibu disetiap keluh ku. Sesalku kian dalam ketika mereka pergi dan aku
tak sempat membuatnya bangga. Doa-doa itu, semangat-semangat itu dan
harapan-harapan itu, pupus sudah. Semua terasa begitu cepat, dan yang
kumampu hanya mendoakanmu di atas tanah tempatmu istirahat, sembari
memandang nisanmu dan melamunkan hal-hal bahagia kita yang dulu.
Pesanku hanya satu untuk kalian yang masih memiliki
kedua orangtua. Tengoklah sebentar, di setiap kerut wajahnya yang menua,
ada lelah yang tak mampu kau bayar. Maka jangan pernah sekalipun
membuat sakit perasaan orangtua. Sekaya apapun dan sehebat apapun
kalian, tetap lebih hebat orangtua, karena merekalah engkau ada di sini,
merasakan indahnya dunia, menjadi orang yang hebat. Dan semoga kau tak
lupa jalannya pulang, Nak.
KAMU WAJIB TAHU!!! Ternyata Kamu Telah Memiliki Cinta Suci Bahkan Sebelum Kamu Lahir Ke Bumi
4/
5
Oleh
Unknown




